Yang pasti, perasaan itu mulai tak terdeteksi. Percaya atau
tidak, perlahan dia akan membunuh. Hmmm, kau hanya harus mengakhiri, berhenti
bermain-main, berhenti membiarkan kehangatan membuat luka bakar.. hangat bisa
saja menjadi panas..
Yaaa...anggaplah itu sebagai suatu upaya prefentif, suatu
tindakan penyelamatan diri, dari pembunuhan yang sangat halus. Pembunuhan yang
mengalahkan metode sianida, atau penyekapan berujung kehabisan oksigen disebuah
kamar mandi.. misal lah ini seperti virus, perlahan dia masuk, berkembang biak,
lalu menyebar, menguasai tubuhmu, merusak syarafmu, lalu yang tersisa hanya
kamu yang berakhir dengan ketidak berdayaan...setidaknya seperti itu kehadiran
beberapa orang digambarkan...
Hebatnya, pada
umumnya mereka mengatasnamakan kampret yang dinamai “cinta”..yaaa cinta,,,hal
yang membuat jutaan orang merasakan porak poranda, meratapi takdir, atau
mendustai diri..cinta, lebih sering tergambar kejam... ada kelompok yang
berujung penghianatan, ada kelompok yang berujung kekecewaan, ada kelompok yang
berujung kebencian..tapi bukan berarti
tidak ada yang hidup tumbuh membahagia...
Konyolnya, ada orang yang dipertemukan satu sama lain dengan
perasaan diantara mereka, tapi tak pernah siap untuk saling memiliki. Tak pernah
siap untuk saling memiliki, tapi mereka takut dihantui akan bayangan tentang
kehilangan datang, mereka tersenyum sumringah saat bertukar kabar...selalu ada
rona bahagia disana..
Tapi pernah nggak sih kamu berfikir ulang... ada kode alam
disana..saat perasaan “tak siap” hadir, mungkin yang harus mereka lakukan,
hanya memulai untuk berhenti.. sebelum mereka benar-benar terperangkap, sebelum
mereka benar-benar tak bisa lepas, pada sesuatu yang disebut “terlanjur ada”..
terlanjur nyaman... terlanjur bersama,,
Ntahlah...
Mungkin berfikir ulang atau membicarakannya kembali tidak
buruk..apa benar kampret yang disebut “cinta” itu adalah penyebabnya...atau
mereka hanya terjebak oleh rasa “candu”... ya perasaan candu untuk tetap
bersikap terlanjur ada, tapi tak pernah berfikir untuk
bersama..yaaap.. beberapa orang harus kembali mengoreksi, untuk alasan mengapa
mereka takut sekali kehilangan.
Cinta itu siap memiliki, siap mempertaruhkan seutuhnya, dia
takut sekali kehilangan, maka dari itu mereka ingin bersama..mereka menjaga dan
memberi kabar..
Lucu memang... tapi seperti itulah permainan takdir.beberapa
orang dihadirkan Tuhan untuk mengisi hati, tapi tidak direstui mengisi hidup..
TAKDIR...
Sering kali saya memikirkannya.setidaknya saya selalu
menyimpan asa kepadanya..yaaa sebutlah harapan sederhana...berharap, “jika saya
tidak pernah bisa mengubahnya, saya berharap bisa menyelesaikannya hingga
akhir” ..
Haaaah... menyelesaikan tanpa kutukan, makian, apalagi
tangisan menyerah.
C
BalasHapusI
N
T
A
Pernahkah kau merasa hatimu sunyi ...
Selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk cinta, namun cinta belum jua memberikan, apa yang telah diimpikan, meski keinginan tak pernah mengharapkan yang terbaik.
Pernahkah kau merasa hatimu hampa ...
Sesekali...mungkin juga sering..
HapusTapi katakanlah..
Pernah...
But, terlalu sia2 unt menghampa..ada Tuhankan..
Manusia biasa ttp saja manusia biasa..
Manusiawi jika merasa sunyi..
Tapi, menyedih-nyedihkan diri bukan cara..
Saya tak bisa menyedih-nyedihkan diri. Ajarin dong bagaimana caranya?
BalasHapusKalau hati saya lagi sedih, ya sedih aja, karena saya tak bisa merubah perasaan sedih menjadi senang, begitu pula sebaliknya.
Sedih itu manusiawi ose...menyedih2kan diri itu belarut2... Membiarkan diri melihat satu ksedihan padahal banyak hal yang pantas di bahagiakan...
HapusKalau sedih ya tulisan ilha sedih..kalau snang ya senang..tapi ilha blajar dr pengalaman..membiarkan ksedihan sama aja bnuh diri..
Jd ya hduplah dihari ini...