Kadang dalam hidup banyak sekali hal yang ingin kamu
utarakan tapi yang kamu lakukan hanya diam, senyum cengengesan.... pernah
ngadepin hal seperti itu??? Yaaa saya sering.... kadang bukan karena kamu nggak
tau jawabannya, cuman lebih seringnya karna kamu akan sadar betul bahwa sudut
pandang yang kamu ambil berbeda dengan sudut pandang pada umumnya....
Oke, ini bermula dari obrolan saya dengan seorang teman lama
sore tadi.
Dia : ilha ngapain aja dirumah??
Saya : ngerjain kerjaan rumah..
Dia : nggak bekerja??
Saya : ha?? nggak (*mikir keras)
Ya.... hanya jawaban sesederhana itu yang bisa saya ucapkan
sambil tersenyum dengan banyak hal yang sebenarnya saya ingin sekali
utarakan... ntah lah, jikapun saya utarakan bisa saja dia adalah orang kesekian
yang akan tertawa, atau hadir dengan sudut pandang beda dengan saya.... saya
tak bisa pastikan, tapi saya bisa lihat kalau dia bukan tipe yang banyak
bicara, dan risih melihat saya dirumah saja..(*bukankah lebih baik dari pada
saya kelayapan atau nyasaran)
I don’t know... but, perkenalkan saya Rizka Afdhilla, 24
tahun, dan tidak ada yang bisa dibanggakan dari saya. Saya tidak memiliki gelar
apapun, hanya perempuan biasa yang tidak menyelesaikan urusan kuliahnya, saya
memilih murtad dari dunia kebidanan untuk satu dan beberapa hal, dan secara
otomatis saya hanya berijazahkan SMA. Anak perempuan yang sering kali kritis
dalam diamnya, mempertanyakan banyak hal, memperhatikan banyak hal, ngeyelan,
dan semua watak yang menjiwa didiri saya, dengan ini mengakui bahwa saya hanya memiliki
cita2 sederhana saat seharusnya perempuan seusia saya memiliki seribu impian
dan cita2 yang luar biasa... dan dengan bangga saya katakan bahwa cita-cita
terbesar saya hanyalah, “MENJADI IBU YANG BAIK BAGI KELUARGA SAYA KELAK”...
oke... wait... mungkin akan ada puluhan tawaan yang akan
menertawai saya, atau sudut pandang yang akan melihat saya dengan pandangan
nyeleneh kelak....
Tapi... apa yang salah dengan cita-cita saya???
Kenapa harus mencibir saat saya tidak memiliki impian besar
untuk dicapai...?? karna bagi saya menjadi ibu yang baik adalah sesuatu yang
lebih sulit dari pada saya memiliki cita-cita ingin bangun monas dibulan..tapi
sadar nggak sih menjadi ibu yang baik adalah sesuatu yang patut diapresiasi?? Menjadi
ibu yang baik tidak pernah ada sekolahnya, tidak harus menghadapi evaluasi,
caci maki atasan, karna menjadi ibu yang baik adalah pencapaian terbesar dari
seorang perempuan yang hanya bisa didapat lewat “pengakuan keluarga”
Berapa banyak perempuan bergelar s1, s2, s3, bekerja di
lembaga, perusahaan terkemuka, atau perkantoran dengan gaji luar biasa, tapi
sayangnya tidak menjeda untuk keluarga, saat harta paling berharga, yaitu keluarganya dititipkan kepada asisten
rumah tangga, sedangkan emas dan berlian saja tak rela dia titipkan pada
siapapun... manakah harta yang lebih berharga???
Oke wait... bukan berarti saya berpendapat wanita karir
bukan ibu yang baik... mari kita perluas sudut pandang...ibu yang baik bukan
harus ibu yang memakai daster, bau asap, dan tidak berkarir ... tidaaak..!
Ibu yang baik bisa saja bekerja, tapi dia harus siap dengan
segala remeh temeh rumah tangganya... yang bisa membagi jadwal antara karirnya,
atau hidupnya... yang bisa beribawa diluaran, tapi penuh kasih memasangkan
sepatu anaknya, yang berpendidikan bagus bukan sekedar untuk karirnya, tapi
agar dapat mendidik mental anak2nya... yang baik pergaulannya tapi tidak pernah
melupakan suaminya...
Karna ibu yang baik tidak dilihat dari seberapa tinggi
prestasinya, tapi seberapa harmonis dan merindu keluarga dengan keberadaannya...
Ntah lah akankah saya akan menjadi sosok seperti apa
kelak... akan menjadi yang baik atau saya akan minus sama sekali ... saya tak
pernah tau takdir...
Tapi jika ditanya apa
saya tidak bekerja?? Maka, harus saya tanyakan bekerja yang seperti apa??
Jika ditanya apakah saya akan berkarir?? Maka jawaban saya,
ambisi saya, bukan menghasilkan banyak uang, tapi bagaimana agar generasi
setelah saya tidak memiliki sudut pandang sekritis saya... karna kritis hanya akan
terbentuk dari banyaknya ketidak sesuaian....
Dan jangan tanya apakah saya termasuk didalamnya...
Ntahlah... akan seperti apa pandangan atau tertawaan
terhadap saya kelak... yang pasti saya hanya bagian dari pembelajaran, dan saya
akan hidup dengan berproses...akan banyak kesalahan dalam proses...maka saya
masih butuh banyak sekali nasehat...
Yang saya yakini, walaupun saya akan ditertawakan seburuk
apapun dengan semua impian saya, saya yakin Tuhan akan mengirim seseorang yang
bisa sepaham...