Kamis, 29 Maret 2018

CITA-CITA TERBESAR



Kadang dalam hidup banyak sekali hal yang ingin kamu utarakan tapi yang kamu lakukan hanya diam, senyum cengengesan.... pernah ngadepin hal seperti itu??? Yaaa saya sering.... kadang bukan karena kamu nggak tau jawabannya, cuman lebih seringnya karna kamu akan sadar betul bahwa sudut pandang yang kamu ambil berbeda dengan sudut pandang pada umumnya....

Oke, ini bermula dari obrolan saya dengan seorang teman lama sore tadi.
Dia          : ilha ngapain aja dirumah??
Saya       : ngerjain kerjaan rumah..
Dia          : nggak bekerja??
Saya       : ha?? nggak (*mikir keras)
Ya.... hanya jawaban sesederhana itu yang bisa saya ucapkan sambil tersenyum dengan banyak hal yang sebenarnya saya ingin sekali utarakan... ntah lah, jikapun saya utarakan bisa saja dia adalah orang kesekian yang akan tertawa, atau hadir dengan sudut pandang beda dengan saya.... saya tak bisa pastikan, tapi saya bisa lihat kalau dia bukan tipe yang banyak bicara, dan risih melihat saya dirumah saja..(*bukankah lebih baik dari pada saya kelayapan atau nyasaran)

I don’t know... but, perkenalkan saya Rizka Afdhilla, 24 tahun, dan tidak ada yang bisa dibanggakan dari saya. Saya tidak memiliki gelar apapun, hanya perempuan biasa yang tidak menyelesaikan urusan kuliahnya, saya memilih murtad dari dunia kebidanan untuk satu dan beberapa hal, dan secara otomatis saya hanya berijazahkan SMA. Anak perempuan yang sering kali kritis dalam diamnya, mempertanyakan banyak hal, memperhatikan banyak hal, ngeyelan, dan semua watak yang menjiwa didiri saya, dengan ini mengakui bahwa saya hanya memiliki cita2 sederhana saat seharusnya perempuan seusia saya memiliki seribu impian dan cita2 yang luar biasa... dan dengan bangga saya katakan bahwa cita-cita terbesar saya hanyalah, “MENJADI IBU YANG BAIK BAGI KELUARGA SAYA KELAK”...
oke... wait... mungkin akan ada puluhan tawaan yang akan menertawai saya, atau sudut pandang yang akan melihat saya dengan pandangan nyeleneh kelak....

Tapi... apa yang salah dengan cita-cita saya???
Kenapa harus mencibir saat saya tidak memiliki impian besar untuk dicapai...?? karna bagi saya menjadi ibu yang baik adalah sesuatu yang lebih sulit dari pada saya memiliki cita-cita ingin bangun monas dibulan..tapi sadar nggak sih menjadi ibu yang baik adalah sesuatu yang patut diapresiasi?? Menjadi ibu yang baik tidak pernah ada sekolahnya, tidak harus menghadapi evaluasi, caci maki atasan, karna menjadi ibu yang baik adalah pencapaian terbesar dari seorang perempuan yang hanya bisa didapat lewat “pengakuan keluarga”

Berapa banyak perempuan bergelar s1, s2, s3, bekerja di lembaga, perusahaan terkemuka, atau perkantoran dengan gaji luar biasa, tapi sayangnya tidak menjeda untuk keluarga, saat harta paling berharga, yaitu keluarganya dititipkan kepada asisten rumah tangga, sedangkan emas dan berlian saja tak rela dia titipkan pada siapapun... manakah harta yang lebih berharga???

Oke wait... bukan berarti saya berpendapat wanita karir bukan ibu yang baik... mari kita perluas sudut pandang...ibu yang baik bukan harus ibu yang memakai daster, bau asap, dan tidak berkarir ... tidaaak..!
Ibu yang baik bisa saja bekerja, tapi dia harus siap dengan segala remeh temeh rumah tangganya... yang bisa membagi jadwal antara karirnya, atau hidupnya... yang bisa beribawa diluaran, tapi penuh kasih memasangkan sepatu anaknya, yang berpendidikan bagus bukan sekedar untuk karirnya, tapi agar dapat mendidik mental anak2nya... yang baik pergaulannya tapi tidak pernah melupakan suaminya...
Karna ibu yang baik tidak dilihat dari seberapa tinggi prestasinya, tapi seberapa harmonis dan merindu keluarga dengan keberadaannya...

Ntah lah akankah saya akan menjadi sosok seperti apa kelak... akan menjadi yang baik atau saya akan minus sama sekali ... saya tak pernah tau takdir...
 Tapi jika ditanya apa saya tidak bekerja?? Maka, harus saya tanyakan bekerja yang seperti apa??
Jika ditanya apakah saya akan berkarir?? Maka jawaban saya, ambisi saya, bukan menghasilkan banyak uang, tapi bagaimana agar generasi setelah saya tidak memiliki sudut pandang sekritis saya... karna kritis hanya akan terbentuk dari banyaknya ketidak sesuaian....
Dan jangan tanya apakah saya termasuk didalamnya...

Ntahlah... akan seperti apa pandangan atau tertawaan terhadap saya kelak... yang pasti saya hanya bagian dari pembelajaran, dan saya akan hidup dengan berproses...akan banyak kesalahan dalam proses...maka saya masih butuh banyak sekali nasehat...
Yang saya yakini, walaupun saya akan ditertawakan seburuk apapun dengan semua impian saya, saya yakin Tuhan akan mengirim seseorang yang bisa sepaham...





Minggu, 18 Maret 2018

MENIKAH



Ngomongin soal nikah, untuk seusia saya kayaknya udah jadi cemilan yang haqiqi... bahkan seolah-olah semua kesalahan yang terjadi karna saya belum nikah (catet)... awalnya sih rasanya biasa... mau di buly, mau di cie-ciein, mau dikenal-kenalin pun, “ it’s not problem for me”...
Atap bocor>> “yaaah udah bocor aja, padahal belum ada yang nikah, buruanlah” (salah saya apa?)
Bosen ngajak jalan >> “makanya nikah, biar jalan sama bebeb, ada yang diajakin” (okeee realistik)
Nengokin teman lahiran >> “buruan nyusul ... nunggu apa lagi??? “ (nunggu jodoh lah)
Minta beli headdryer >> “ntar kalau udah nikah mama beliin” (apa hubungannya??)
Mau ngecat rumah >> “ntar aja kalau ada mantu yang mau datang” (dia jg ga bakal tau rumah kita kapan di cat)
Lagi sepi nge chat teman >> “makanya kamu nikah, biar pasti” ( am I wrong??? )
Papa nemu teman lama>> “udah tua, belum juga” (aku ga ngerti kode2, morse atau apa pa, aku nggak ikut pramuka)
Dan bla bla bla....

Seiring berjalannya waktu, bergerak dari satu patah hati kepatah hati lainnya, dari gilanya prasaan-prasaan saat jatuh cinta, semua bergerak sesuai fase, namun ada yang berubah...percaya atau tidak cara kamu memandang cinta akan berubah... akan ada perasaan lelah saat semua terasa sebecanda itu, ada perasaan serius, saat semua butuh hal pasti... ga naif, dan dari hasil survey kepada sahabat-sahabat saya lainnya hal itu sama.... ada prasaan lelah bermain-main, ada sesuatu yang bikin berfikir, “ga bisa, saya harus beranjak”....

Haaaaa.... terlalu serius nyonya.... ayolah santai sedikit... hahaha
Faktanya mendewasa merubah banyak hal... dari awalnya saya nggak pernah peduli topik kapan nikah?? Mau calon yang gimana?? Sampai saya benar-benar sadar kalau semua udah berubah, nggak sama... udah kayak benang layangan yang salah ambil ujungnya pas ngegulung, yang harusnya ujung luar, malah ngegulung ujung dalam, jadinya apa??? RUWET.... CAPE sendiri... dan pantang bagi layangers (pemain layang2) buat buang2 benang....jadi apa??? Ya slesaiin sampai kelar...

Siapa sih yang ga mau nikah?? Saya juga pengen kok nikah... kalau emang dalam waktu dekat bisa ya knapa enggak??? Kalau emang  jodohnya ada ditakdirin tuhan, dan ngebuat saya ngerasa kalau dia “be the one” knapa nggak...alasan knapa saya dulu itu brani pacaran ya agar saya ga capek nanggepin pertanyaan2 semacam ini sendiri... seenggaknya mikir agar nantinya(yang brarti sekarang) pas ditanya paling nggak bisa ngenalin sosoknya...tapi ya cerita Tuhan yang terindah....hahaha

Ntah lah... saya sudah mulai bergerak, dan saya tidak menyesali apa2... bahkan saya bersyukur, setidaknya semuanya membawa saya untuk terus memperbaiki diri...
Membuka hati??? Bukan hal yang sulit bagi saya... intinya Cuma seberapa seseorang menseriuskan saya...yaaa sesederhana itu....
Cinta yang serius bukan perihal seberapa tampan, seberapa mapan, bukan pamer kekayaan, atau pelukan.... cinta yang serius mungkin lebih kepada cinta yang didasari iman, yang penuh pertanggung jawaban kepadaNya, maupun kepada orang tuanya...yaaa yang bertanggung jawab tidak akan menjanjikan banyak hal tapi menunjukkan akan selalu bergerak tumbuh disegala situasi ...insyaa Allah

Ntahlah, akan seperti apa kedepannya...sosok seperti apa dia, saya menunggu mu..
Saya yakin dia yang menjadi takdir bagi saya tidak akan melewatkan saya, akan dikuat kan hatinya agar tetap berada dilingkaran saya... akan dituntun Tuhan saat saya meyakininya... tenang saja ...
Faktanya pacaran tidak mendekatkan jodoh...lalu apa lagi....
So, bagi yang terus nanya-nanya kapan nikah, geser lah sedikit jadi “nikah gih sama si A misal, atau sesederhana nikah yuk misal” hahahaha

Sabtu, 10 Maret 2018

MARRY YOUR DOUGHTER

Ada masa dimana kamu lebih berharap seseorang bkin baper bapakmu, dibanding dirimu...hahaha😄😄


Kamis, 01 Maret 2018

SAYA PEREMPUANNYA



Iya, dia orangnya...
Seseorang yang saya pikir tidak akan menggores luka karna dia mengerti betapa sakitnya luka... saya kecewa, penuh kutukan, serapah, makian yang berkali2 saya sadar akan menyakiti diri saya sendiri..
Dari awal saya sadar...dia orangnya... dengan benda tajam ditangannya, yang sewaktu2 bisa melukai...

Kau tau...katamu, kamu ingin bersikap ada saat dia(yang pernah kau sebut kasih) dilukai oleh kekasihnya,  Kamu ceritakan BETAPA BUSUKNYA kekasihnya saat mendua yang kemudian mengukir luka direlung hatinya(kekasih lamamu)...sadarkah yang kau lakukan apa?? Bersikap ada untuknya(kekasih lamamu) sedangkan aku tengah berada disisi mu kala itu, dan kau menduakan hatimu, dan mengukir luka direlungku???
LALU APA BEDANYA KAMU DENGAN PRIA ITU?? Seseorang yang kau pikir jahat??? Seseorang yang kau pikir busuk??? Seseorang yang kau maki dihatimu dengan segala kekejamannya membuat seorang wanita lemah menangis??

KAU LIHAT AKU???
KAU MENGINGAT AKU???
SADARKAH AKU ADALAH BAGIAN DARI WANITA YANG MENANGIS KARNAMU??
Sadarkah aku dengan tangisan harus berupaya terlihat baik dihadapan keluargaku,seolah tak terjadi apa2, seolah aku baik2 saja...sadarkah bagaimana aku memakai topeng hari itu hanya dalam hitungan detik?? Aku menghadapinya sendiri, dan katanya kau tak tega melihatnya sendiri ....
Hey ...maka tamu tak akan masuk tanpa kau bukakan pintu...
Kau berharap dia kembali kesisimu, dengan seribu harapan dia melepas kekasihnya, dan kau lepas kekasihmu agar kau bersiap saat dia kembali....hah lucu....

Tak perlu kau salahkan jarak, kondisi, usia, ataupun airmataku....jauh atau dekat toh semua ditentukan prasaan...

Hey...saya perempuannya... yang penuh serapah dan pertanyaan mengapa??
Tapi yang saya bisa lakukan apa???hanya tertunduk...iya...saya hanya tertunduk bisu menyadari betapa hidup belum berpihak kepada saya...sesekali saya mengutuk diri, dengan semua kebodohan saya..
Hari itu...dihari ulang tahun ku, kau sembunyikan namanya, hari itu saat menelfon via gambar kau sering kali melihat jendela mengarah pada rumahnya, ada sesuatu yg dicari dan aku diam saja, dan hari itu saat aku bertanya sedang chat dengan siapa...
Kamu katakan semua hal yang kau tak suka dan kau abaikan yang ku tak suka... ku simpan masa lalu ku sebaik2nya, ku tutup nama pionir2 hitam putihku, hingga tak satupun nama masalaluku yang bergema ditelingamu, dan itu caraku menjaga hatimu...ku terima masalalu mu, dengan semua nama yg beberapa kali kau bisikkan dan mengusikku, hanya berharap kisah yg akan utuh ...oh boy, its not fair to me...

Saya perempuannya....
Yang menilai mu tidak hanya tersurat tapi tersirat...saya perempuanmu yang tidak sekedar kata, tapi intonasi rasa, dan saya perempuannya yang melihat bukan sekedar gerak tapi mimik dan bahasa tubuh..dan saya tau beberapa kali saya kehilangan...

Hey kamu...
Untuk semua dengunganku padamu, aku tak akan menghitamkan hatiku dengan membencimu...aku tau, dan aku mempercayainya...saat kau bercerita tentang prasaanmu kepada ku..tentang semua rasa indah yang kau katakan semua masih sama... hanya saja dari awal sudah kujelaskan, aku bukan pilihan...jika aku adalah pilihan dan bukan tujuan bagimu, aku iklas kau dengan pilihanmu yang lain, aku tak akan mempersulitmu memilih..aku tak akan mengusik...
Bagaimanapun, aku sadar hatimu, milikNya, dan saat Dia membolak balik hatimu itu kuasanyanya, tapi saat menentukan sikap, itu kuasamu membentuknya..aku tak bisa memaksa rasa...aku mengiklaskanmu dan menyerahkan semuanya kepada Nya..
Karna aku sadar Tulusku cukup berurusan denganNya...dan cinta yang abadi hanya cintaNya..
Aku akan sibuk memperbaiki diriku agar rabb ku memaafkan aku...

Kamu....pulanglah kerumah yang benar2 kau yakini, dan kosongkan rumahmu jika siap untuk dihuni..
Dan aku, aku akan tetap menjadi rumah yang ntah untuk siapa...tapi aku yakin, jika takdirku akan pulang kepada ku... ntah dengan takdir yang seperti apa...

Kau tetap akan masih sama...temanku, sahabatku...
Berceritalah jika kau rasa sesak, berbagilah jika kau anggap sulit...
Dengan sejuta serapahku, bukan aku membencimu, tapi lebih dari itu yang aku yakin kau mengerti tanpa ku menjelaskan rasaku, aku peduli, agar kau tak mengulanginya, kepada siapapun ...
Jika aku terasa kejam bagi mu bisa kau maki aku dengan semua kutukan mu...jika ingin kau ingin membencikupun, silahkan hapus aku dari memori mu...
Dan...maafkan aku, yang entah untuk apa aku rasa perlu mengatakannya..
aku akan selalu mendoakan semua hal yang terbaik bagimu..