Kamis, 27 April 2017

KITA BUKAN DIJAMAN PURBA



Apatis....
Sejauh ini....dan akhirnya apa??? Saya harus mengakui saya menyerah dengan keapatisan saya...
Saya menyerah dengan semua perasaan tidak peduli saya... menyerah saat pedrosa selalu memberi harapan2 lalu membatalkannya, dan saya harus mulai melihat saat vinales menunjukkan usahanya.... #hahaha.... maaf permirsa belum sadar... becandaaaa...

Oke oke,,... intermezo ..ehk...
Udah... jangan mellow... ini masih pagi.... cie cie ... oke cukup....
Hari ini, saya nggak akan bahas tentang saya.... capek nggak sih denger tentang saya... iya kan ya... .kali ini kita membahas sesuatu yang lebih bersifat umum, yang lebih bersifat universal....yaaa... karna kali ini saya akan membahas tentang rumah...

Rumah....
 Suatu tempat yang paling nyaman, tempat dimana kita bisa tidur dimana saja, tempat dimana kita bisa mengekspresikan semaunya, tempat yang menjadi alasan kita pulang, tempat yang memberikan kenyamanan luar biasa, tempat yang membiarkan kita tertidur lelap saat banyaknya cobaan, memberi keteduhan, dan tempat itu selalu saja kita sebut rumah...

Tapi, jauh sebelum manusia berkembang dengan kemajuan teknologi dan pola fikir, manusia hidup secara primitif... hidup dijaman purba... mereka hidup nomaden berpindah2 tempat... bagi mereka rumah adalah tempat yang memberi kenyamanan sesaat, dan saat rumah mereka terancam binatang buas, disaat rumah mereka dirasa tak nyaman lagi, yang mereka lakukan adalah pergi mencari rumah yang baru, dan tak akan pernah tau tempat mereka kembali yang sebenarnya... yaaa manusia primitif, yang berfikir untuk pergi, bukan membangun rumahnya dengan baik agar aman, atau memperbaiki proteksi untuk lingkungannya...

Yaaa rumah... sama saja dengan hati...suatu saat kita akan menetapkan hati mana yang harus kita jadikan rumah...tempat untuk pulang walaupun melangkah sejauh apapun... tempat yang selalu dirindukan saat melangkah meninggalkannya... rumah bukan sekedar tentang objek... tapi rumah adalah tentang kehidupan didalamnya...

Hebatnya, manusia modern sering kali berfikir primitif... manusia yang katanya otaknya berkembang, memilih hidup purba... tidak semua, tapi sering terjadi.... mereka sering kali hidup nomaden, berpindah dari satu hati ke hati lainnya... berpindah saat hati yang lama mulai terancam... yang katanya bersikap selektif, tapi berfikir primitif...

Okee.... kita hidup dijaman modern... dijaman otak, dan pola fikir kita akan selalu berkembang... dijaman sebelum kita memilih membangun rumah kita memilih lokasi, memikirkan kenyamanan, memikirkan keamanan, bentuk bangunan, dan semua pritilan2 nya....dan saat rumah kita rusak, mungkin atap yang bocor, dinding yang rusak, yang kita lakukan bukan pergi...hal pertama yang kita lakukan adalah berfikir untuk memperbaiki...kita bukanlah manusia primitif... lebih kritis laaaah...

Minggu, 09 April 2017

4 BULANAN



Ini adalah bulan ke 4 setelah aya memilih untuk bersikap apatis terhadap urusan cinta. Dan hasilnya apa??? Semakin saya tak peduli, semakin saya mengacuhkannya, semakin saya kehilangan arah tentang seperti apa perasaan saya yang seharusnya. Hidup tanpa sebuah keputusan untuk memilih tempat berhenti, sama aja kayak bus pariwisata yang bisa pergi kemana saja lalu berhenti di halte mana saja, tapi tak pernah tau kemana sebenarnya tempat untuk menetap dan kembali... ini bukan lagu loh ya..
                                 
bukannya saya tidak bisa melihat perasaan, tapi yang saya tau, saya tak pernah menjadi satu-satunya, tak pernah menjadi tempat pulang untuk dijadikan rumah... mungkin belum..ya hanya belum...bukan karna karir pedrosa yang gagal tahun kemaren, atau karna hal-hal nyeleneh lainnya, yang seharusnya saya tertawakan...

hmmm... selama ini yang saya lakukan tiap kali jatuh hati adalah pergi saat saya sadar, saya bukanlah orangnya.. tapi sejak memilih tidak peduli terhadap cinta, yang saya lakukan adalah membiarkan semuanya... membiarkan yang menyapa, membiarkan yang pulang, dan membiarkan yang pergi... tak peduli jika faktanya saya bukanlah orangnya, tidak peduli jika faktanya saya hanyalah suatu pembanding, saya selalu membiarkan..tidak memilih pergi ataupun bertahan..
tapi tau apa paradoks yang terjadi???
Saya cemburu saat menyadari bukan saya orangnya...saya terhenti hanya karena sadar tak baik untuk melangkah bersamanya..saya marah saat saya mengetahui bahwa saya adalah pilihan dari beberapa obtion...dan saya kecewa saat binar mata yang terpancar bukanlah karna saya..

Menjadi apatis  bukan perkara mudah... menanam deskripsi2 baru bahwa cinta adalah sebuah kenyataan yang harus tampil, berani, bukan sembunyi... yang berjodoh bukan saja bertemu, tapi pasti akan bertamu...yang berjodoh telah menyusun visi dijauh hari tidak mendadak hadir lalu mengajak pergi.. meminta dihadapan orang tua, bercerita tentang visi, dan seberapa yakin, seberapa serius, dan seberapa peduli..tapi menjadi apatis membuat monoton yang membuat mu menjadi sosok  yang lebih idealis..menyenangkan?? mungkin tak sepenuhnya

Usia?? Ya usia kadang menjadi obrolan serius untuk memulai melangkah..menghabiskan 23 dan melangkah menuju 24 membuat obrolan tidak lagi seringan biasa...hal2 yang awalnya memotivasi lama kelamaan menjadi tekanan..bukan lasekedar nikah2an..tapi semakin lama semakin rumit..makin susah diselesaiin
“eh, mama umur 23 udah nikah, 24 udah punya anak 1” ini kode keras yang halus skali..
“eh, kakak umur 21 udah nikah, 22 lahir ni si babang, ini udah yang ke tiga ni” kadang berasa nyindir..
“seharusnya umur segitu papamu udah jadi kakek, udah nimang cucu”.. seharusnya sih iya.. tahun ini papa udah 61 ya?..
“kalau di kampung ku seumuran kamu udah punya anak 3 lo”.. sayangnya kampung kita bedakan ya...
Haaaa...kalau diingat2 sebenarnya ini bisa ditertawakan seperti basa... hanya saja tertawa dilelucon itu2 saja membuat itu menjadi hal yang serius...

Ini adalah jomblo terlama saya sejak memutuskan untuk memulai pacaran...yang awalnya saya berfikir, sebelum nikah saya akan menjalin pacaran yang lama untuk saling mengenal, saling mencocokan, sekarang malah dituntut untuk serba cepat. Percaya atau nggak, ketidak cocokan akan mulai terasa saat hubungan diatas 8 bulan.. ya wajar sih jika orang tua menanya ini itu, ada nggak orangnya dari sekarang...karna nggak mungkin sekali ketemu tau2 ngajak anaknya nikah..hanya saja kadang merasa terusik...

dan semakin difikir semakin nggak akan slesai... lalu apa?? Ya hadapi saja jalani saja... jika sudah waktunya, akan ada hari dimana yang mereka tanyakan akan terjawab...dan akan ada hari dimana tulisan saya akan penuh dengan cerita panjang tentang “DIA” ..ya dia yang suatu saat menjadi satu2nya tempat yang saya pilih menjadi rumah baru terbaik...