Kepada kamu yang tengah berusaha memecah benteng ku,
Untuk kamu yang ingin menembus tameng ku...
Izinkan saya bercerita secara past tense kepada diri mu...bukan
untuk menghidupkan hal-hal dimasa lalu, atau untuk mengkorek-korek luka yang
nyaris sembuh... tidaaak .... sama sekali tidak...
Saya perempuannya, perempuan yang patah berulang, perempuan
yang hancur berulang, yang tertunduk pada Tuhan dihilangnya asa, yang pernah
apatis terhadap cintanya, mengutuk pahit pada langit, atau mempertanyakan semua
pada semesta... itu saya,, PEREMPUAN itu....
Tapi kau tau, saya juga perempuannya, yang bangkit dalam
patahnya, berharap disisa keapatisannya, dan ajaib di kehancurannya...
Tak banyak yang bisa saya lakukan, bahkan di posisi performa
terbaik, apalagi dalam kehancuran...tak lebih perempuan yang bisa bersikap cuek,
atau benar2 kritis...dan itu masih SAYA...
Setiap kali hancur, saya bangkit dengan sudut pandang baru,
bentengnyapun tak lagi sama dengan benteng sebelumnya, karna doa yang saya
langitkan tak akan sama dengan doa sebelumnya, karna hati yang berada dibenteng
itu adalah puing2 sisa yang dalam pemulihan...haaaah...kadang rasanya “drama”..tapi
faktanya, begitulah hidup berjalan...
mereka2 yang kemudian menjadi pionir dikomik hitam putih
dihidup saya, membuat rangkaian cerita bersambung, yang mungkin tak akan saya
baca berulang.... ada binar yang
menerawang jauh saat sadar bagaimana semua berlalu... dan kau tau?? tamparan
terbaik adalah kenyataan, hal yang membuat saya beranjak, melangkah, mengganti
binar yang menerawang menjadi binar kekuatan memancar dari mata saya, dan saya memutuskan
hidup dengan layak...saya belajar tentang bagaimana penghargaan terbaik kepada
diri.. tentang bagaimana saya menyadari diri berhak mendapat kasih sayang dari
diri sendiri....
Dan ternyata, Tuhan penuh kasih sayang, dia Yang Maha Cinta,
menawar sakit saya...ntah dengan cara yang disebut apa, perlahan ada senyum
yang meringan, ketukan demi ketukan menghampiri tameng saya... saya masih
bersembunyi bertahan dibalik tameng ... tak semudah itu kawan...
Suatu hari, salah satu ketukan itu adalah kamu...
Katanya, kita
sama, remuk yang berusaha bangkit... awalnya,
saya tak peduli... bahkan dalam waktu yang lama... saya hanya mendengar kau
bercerita tanpa banyak bertanya, hanya menjawab dan mendengar seperlunya...
bahkan beberapa kali saya berfikir, apakah obrolan kita hanya obrolan sepasang
orang yang hanya merasa kosong... perlahan, ada rasa ingin tau yang mulai
tumbuh,..keingin tauan yangkritis, adalah pergerakan...
Dan saat ini saya merasa dititik, dengan sebuah pertanyaan, “apakah
saya adalah alat untuk sebuah ego??” ntahlah...ntah apa yang membuat saya
berfikir sekritis ini...sejak awal saya telah memberi rambu, kalau saya memang
sangat kritis adanya...beberapa kali saya berfikir, apakah saya alat untuk
balapan tentang siapa yang lebih dulu bangkit dan bahagia... jika
jawabannya ya, bolehkah saya memohon???
Saya kehancuran yang baru saja pulih, masih ada bekas luka disana
sini yang tidak lagi sakit tapi masih terlihat bekasnya...jika saja saya
dihadirkan untuk menyakiti seseorang saya tak akan hadir, tak akan pernah ada
pintu yang membuka...tak akan pernah ada restu yang meridho...karna tuhan maha
tau..saya bukan kekuatan yang hadir untuk menghancurkan, tapi saya ingin
menjadi kekuatan yang menghebatkan.. ntah untuk siapa... jika masalalu mu belum
selesai, jangan memasuki hidup saya, atau siapapun itu perempuannya...tanya
baik2 kepada hatimu, minta kepada tuhanmu....
Tamengku, tak akan tertembus jika panahmu tumpul...dan
bentengku tak akan kau hancurkan saat kekuatanmu stengah-stengah... karna tuhan
Maha Tau, dan memberi clue2 untuk memberi tau ...cukup kumpulkan clue masing2,
lalu selesaikan puzzel demi puzzel, dan kau akan melihat gambar yang utuh....